Jumat, 14 Maret 2014

Ulumul Qur'an: Qashasul Qur'an

BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Segala puji hanyalah bagi Allah. Kita memuji-Nya, memohon pertolongan dan petunjuk kepada-Nya, serta memohon perlindungan kepada Allah dari kejahatan diri kita dan kejelekan perbuatan kita. Barang siapa yang ditunjuki Allah maka tidak akan ada yang menyesatkannya dan barang siapa yang disesatkan-Nya maka tidak akan yang menunjukinya. Saya bersaksi bahwa tidak ada Tuhan kecuali Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya, dan saya bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan Utusan-Nya, semoga shalawat dan salam terlimpah atasnya, keluarga, dan para sahabatnya.
Dalam Al-Qur’an terdapat beberapa pokok-pokok kandungan. Diantara pokok-pokok kandungan Al-Qur’an adalah aqidah, syari’ah, iptek, dan filsafat. Al-Qur’an sebagai sumber utama dan yamg paling utama bagi umat islam, mengandung berbagai macam ilmu, hukum, bahkan kisah atau cerita, baik kisah masau lampau, masa kini maupun masa yang akan mendatang. Semua kisah yang ada dalam Al-Qur’an tentunya mengandung arti dan maksud tertentu, dan tentunya kisah-kisah tersebut salah satunya sebagai petunjuk bagi umat islam khususnya dan umat sedunia umumnya, karena kisah-kisah dalam al-Qur’an merupakan peristiwa yang nyata dan benar.
Dan di dalam Al-Qur’an, Allah telah menceritakan kepada kita kisah orang-orang dahulu dan menyifati kisah ini sebagai kisah yang benar yang tidak diragukan, sebagaimana Ia telah menyifati kisah itu sebagai kisah terbaik.
Allah SWT telah menetapkan bahwa dalam kisah orang-orang dahulu terdapat hikmah pelajaran bagi orang-orang yang berakal, yang mampu merenungi kisah-kisah itu, menemukan padanya hikmah dan nasihat, serta menggali kisah-kisah itu pelajaran dan petunjuk hidup.
Dan tujuan dihadirkanya makalah ini adalah untuk menemukan tujuan Al-Qur’an dari kisahnya, mengalihkan perhatian kita kepada kisah ini dalam kebenaran, prinsip, dan pengarahan dalam melaksanakan perintah Allah untuk memperhatikan, memikirkan,dan  mengambil pelajaran.
B.     Rumusan Masalah
1.      Bagaimana Pengertian Qashashul Qur’an ?
2.      Ada Berapa macam Kisah dalam Al-Qur’an ?
3.      Apa Tujuan dari Kisah-kisah dalam Al-Qur’an ?
BAB II
PEMBAHASAN

A.    Pengertian Qashashul Qur’an

Kata Qashash berasal dari bahasa Arab yang merupakan bentuk jamak dari kata Qishshah yang berarti tatabbu’ al-atsar (napak tilas/ mengulang kembali masa lalu). Qishshah menurut Muhammad Ismail Ibrahim berarti “hikayat (dalam bentuk) prosa yang panjang”[1]. Imam ar-Raghib al-Isfahani dalam kitab al Mufradat fi Gharib al-Qur’an  juga mengartikan kata “Qashashtu atsarahu” sebagai “saya mengikuti jejaknya” kata al-qashash juga ada yang berupa masdar seperti dalam firman Allah QS. Al-Kahfi (18): 64 disebutkan:

قال ذلك ما كنّا نبغ فارتدّا على اثارهما قصصا

Artinta : Musa berkata: “Itulah (tempat) yang kita cari”. Lalu keduanya kembali, mengikuti jejak mereka semula.
Maksudnya kedua orang itu kembali mengikuti jejak dari mana keduanya itu datang. Dan firmanya melalui lisan ibu musa, QS. Al-Qahah (28): 11 sebagai berikut:
وقالت لاخته قصّيه فبصرت به عن جنب وهم لايشعرون
Artinya: dan berkatalah (ibunya Musa) berkata kepada saudara perempuan musa, “Ikutilah Dia (Musa).” Maka kelihatan olehnya (Musa) dari jauh, sedangkan mereka tidak menyadarinya.[2]
Maksudnya ikutilah jejaknya sampai kamu melihat siapa yang mengambilnya. Secara etimologi  (bahasa), al-qaa mempunyai arti urusan (al-amr), berita (al-khabar), perbuatan (al-sya’an), dan keadaan (al-hal). Dalam kamus Bahasa Indonesia, kata al-qasa diterjemahkan dengan kisah yang berarti kejadian (riwayat, dan sebagainya). Menurut al-Raghib al-Ifahani, qaa adalah akar kata (madar) dari “qaṣṣa-yaquṣṣu”, secara lugawi konotasinya tak jauh berbeda dari yang disebutkan di atas, yang dipahami sebagai “cerita yang ditelusuri” seperti dalam Firman Allah swt. Q.S. Yusuf (12): 111:
لقد كان في قصصهم عبرة لاولي الالباب ما كان حديثا يفترى ولكن تصديق الّذى بين يديه وتفصيل كلّ شئ وهدى ورحمة لقوم يؤمنون .
Artinya: Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal. Al Qur’an bukanlah cerita yang dibuat-buat, akan tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjelaskan segala sesuatu, dan sebagai petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman. (QS. Yusuf : 111).
            Berdasarkan pada beberapa arti di atas, dapat diambil pengertian bahwa qia sama dengan kisah yang mempunyai arti segala peristiwa, kejadian atau berita yang telah terjadi dari suatu cerita untuk menelusuri jejaknya.
            Menurut perspektif Alquran, Allah swt. mengungkapkan diriNya melalui peristiwa-peristwa, namun wahyuNya menggunakan tema-tema yang sudah terkenal dan dinyatakan kembali sampai orang-orang beriman meresapinya.[3] Alquran banyak mengandung keterangan tentang kejadian pada masa lalu, sejarah bangsa-bangsa, keadaan negeri-negeri dan peninggalan atau jejak setiap umat. Ia menceritakan semua keadaan mereka dengan cara yang menarik dan mempesona.

            Berdasarkan pengertian di atas, maka dapat dikatakan, bahwa pada kisah-kisah yang dimuat dalam Alquran semuanya cerita yang benar-benar terjadi, tidak ada cerita fiksi, khayal, apalagi dongeng. Jadi bukan seperti tuduhan sebagian orientalis bahwa Alquran ada yang tidak cocok dengan fakta sejarah.[4]

B.     Macam-macam Kisah dalam Al-Qur’an
            Menurut Manna Khalil al-Kattan,[5] kisah-kisah yang terdapat dalam Alquran dapat dibagi menjadi tiga macam, yaitu:
1.      Dilihat dari sisi pelaku
Dari sudut pandang pelaku, kiah-kisah dalam Alquran dapat lagi dibedakan menjadi  tiga macam yaitu:

a)      Kisah para nabi

Pada bagian ini, kisah dalam Alquran berisikan tentang ajakan  para nabi kepada kaumnya, mukjizat-mukjizat yang memperkuat dakwahnya, sikap orang-orang yang memusuhinya, tahapan-tahapan dakwah dan perkembangannya serta akibat yang menimpa orang beriman (mempercayai) dan golongan yang mendustakan para nabi. Misalnya kisah Nabi Nuh, a.s., Nabi Ibrahim a.s., Nabi Musa, a.s., Nabi Harun, a.s, Nabi Isa, a.s., Nabi Muhammad saw, dan nabi-nabi serta rasul lainnya.

b)      Kisah yang berhubungan dengan masa lalu dan orang-orang yang tidak disebutkan kenabiannya.

Misalnya kisah orang yang keluar dari kampung halamannya, yang beribu-ribu jumlahnya karena takut mati, kisah Talut dan Jalut, dua orang putera Adam, Ahabul Kahfi, Dzul Qarnain, Qarun, Ashabus Sabti (orang–orang yang menangkap ikan pada hari sabtu), misalnya Maryam, Ahabul ukhdud, Ahabul Fil dan lain-lain.

c)       Kisah yang terjadi pada masa Rasulullah saw.

Seperti perang Badar dan Uhud dalam Surah Ali Imran, perang Hunain dan Tabuk dalam Surah al-Taubah, perang al-Akhzab, Hijrah, Isra’ dan lain-lain.


Kisah-kisah mengenai para nabi dalam Alquran bervariasi sesuai dengan kasus, tetapi mereka semua adalah pemberi peringatan yang mendapat perlindungan Allah swt. kepada para hambaNya. Perlindungan ini adalah salah satu elemen dalam narasi yang dipercepat dengan insiden.

Contoh: Nabi Ibrahim, a.s. diselamatkan dari api yang dilempar kedalamnya oleh umatnya setelah dia menghancurkan patung-patung, Q.S. Al-Anbiya’ (21): 68-71.
Nabi Isa, a.s. diselamatkan ketika Allah swt, secara mukjizat menghalanginya dari orang-orang Yahudi dari menyalibnya Q.S. an-Nisa (4): 157.[6]

2.      Dilihat dari panjang pendeknya
Dalam hal ini, kisah-kisah dalam Alquran dapat dibedakan menjadi tiga bagian,[7] yakni:
a.      Kisah yang panjang, contohnya kisah Nabi Yusuf, a.s. dalam Q.S. Yusuf (12) yang hampir seluruh ayatnya mengungkapkan kehidupan Nabi Yusuf, sejak masa kanak-kanak sampai dewasa dan memiliki kekuasaan.

b.      Kisah yang sedang, seperti kisah Nabi Musa, a.s. dalam Q.S. al-Qaa (28), kisah Nabi Nuh, a.s. dan kaumnya dalam Q.S. Nuh (71), dan lain-lain. Kisah yang lebih pendek dari kisah yang sedang, seperti kisah Maryam dalam Q.S. Maryam (19), kisah Ahab al-Kahfi pada Q.S. al-Kahfi (18), kisah Nabi Adam, a.s. dalam Q.S. al-Baqarah (2), dan Q.S. Thoha (20), yang terdiri atas sepuluh atau beberapa belas ayat saja.

c.       Kisah yang pendek, yaitu kisah yang jumlahnya kurang dari sepuluh ayat, misalnya kisah Nabi  Luth, a.s dalam Q.S. al-A’raaf (7), kisah Nabi alih, a.s. dalam Q.S. Hud (110), dan lain-lain.

3.      Dilihat dari jenisnya

Apabila dilihat dari segi jenisnya, kisah-kisah dalam Alquran dapat dibagi menjadi tiga macam,[8] yaitu:

a.      Kisah Sejarah (al-qia al-tarikhiyyah), berkisar tentang kisah-kisah sejarah, seperti para nabi dan rasul.

b.      Kisah perumpamaan (al-qia al-tamlsiyah), untuk menerangkan atau memperjelas suatu pengertian, bahwa peristiwa itu tidak benar terjadi tetapi hanya perkiraan.

c.       Kisah asatir, kisah ini untuk mewujudkan tujuan-tujuan ilmiah atau menafsirkan fenomena yang ada atau menguraikan masalah yang sulit diterima akal.


C.    Tujuan dari Kisah-kisah dalam Al-Qur’an

Kisah-kisah yang terdapat dalam Alquran menjadi bukti kuat bagi umat manusia bahwa Alquran sangat sesuai dengan kondisi mereka, karena sejak kecil sampai dewasa bahkan sampai tua, jarang orang yang tak suka pada kisah, apalagi bila kisah mempunyai tujuan ganda, yakni disamping pengajaran dan pendidikan juga berfungsi sebagai hiburan. Alquran sebagai kitab yang berisi hidayah mencakup kedua aspek itu, disamping tujuan yang mulia, juga kisah-kisah tersebut diungkapkan dalam bahasa yang indah dan menarik, sehingga tak ada orang yang bosan membaca dan mendengarnya. Sejak dahulu sampai sekarang, telah berlalu empat belas abad, kisah-kisah Alquran yang diungkapkan dalam Bahasa Arab itu masih up dated, mendapat tempat dan hidup di hati umat, padahal bahasa-bahasa lain telah banyak yang masuk museum, dan tidak terpakai lagi dalam berkomunikasi seperti Bahasa Ibrani, Bahasa Latin, dan lain-lain.[9]
            Kisah-kisah dalam Alquran bukanlah suatu gubahan yang bernilai sastera saja, baik gaya bahasa maupun cara menggambarkan peristiwa-peristiwa, tetapi juga merupakan suatu media untuk mewujudkan tujuan yang asli. Kisah-kisah dalam Alquran secara umum mempunyai tujuan untuk kebenaran dan semata-mata untuk keagamaan.[10] Adapun tujuan kisah-kisah yang terdapat dalam Alquran, seperti yang telah dikemukakan oleh Muhammad Chirjin,[11] adalah  sebagai berikut :

1.              Menetapkan adanya wahyu dan kerasulan.
2.              Menerangkan bahwa agama semuanya dari Allah swt.
3.              Menerangkan bahwa semua agama itu dasarnya satu dan semuanya dari Tuhan Yang Maha Esa.
4.              Menerangkan bahwa cara yang ditempuh oleh nabi-nabi dalam berdakwah itu    satu dan sambutan kaum mereka terhadap dakwahnya itu juga serupa.
5.              Menerangkan dasar yang sama antara agama yang diajarkan oleh Nabi Muhammad saw.,  dengan agama Nabi Ibrahim, a.s. secara khusus, dan dengan agama-agama Bangsa Israil pada umumnya dan menerangkan bahwa hubungan ini lebih erat daripada hugungan umum antara semua agama.














BAB III
PENUTUP
A.    kesimpulan
Berdasarkan pada uraian-uraian  di atas, maka dapatlah ditarik beberapa kesimpulan, yakni sebagai berikut :

1.      Bahwa yang dimaksud dengan Qaa al-Qur’ān adalah kisah-kisah dalam Alquran tentang kejadian dimasa lampau yang bersisi pesan-pesan kepada umat manusia untuk senantisa bertakwah kepada Allah swt.

2.      Bahwa macam-macam kisah dalam Alquran dapat dibedakan menjadi  tiga macam yaitu:

a)      Dilihat dari segi pelaku, terdiri dari ; 1) kisah para Nabi; 2) kisah-kisah yang berhubungan dengan kejadian masa lalu dan orang-orang yang tidak disebutkan kenabiaannya;  3) kisah-kisah tentng kejadian pada masa Rasulullah saw.
b)     Dilihat dari panjang pendeknya, terbagi menjadi ;  1)
c)      Panjang; 2) Sedang; 3) Pendek.
d)     Dilihat dari segi jenisnya, dibagi menjadi ; 1) kisah sejarah (al-Qia al-Tarikhiyyah);  2) kisah perumpamaan (al-Qia al-Amaliyyah); 3) kisah Asatir

3.      Bahwa tujuan dari kisah-kisah Alquran adalah supaya umat manusia bisa mengambil pelajaran berharga dari kisah tersebut dan membuktikan kebenaran Alquran.

B.     Saran-saran
Setelah menguraikan permasalahan demi permasalahan, maka penulis menyadari masih banyak kesalahan dan kekeliruan yang terdapat dalam penyusuanan makalah ini, baik dari segi penulisan maupun dalam pembasannya. Oleh karena itu, penulis mengharapkan saran dan kritikan yang bersifat membangun sehingga dalam penyusunan makalah-makalah selanjutnya dapat lebih sempurna.





DAFTAR PUSTAKA
Ibrahim, Muhammad Ismail, Mu’jam al-Alfazh wa A’lam al-quraniyyat, Dar al-Fikr-al-a’rabi, 1969.
Departemen Agama RI., Al-Qur’an dan Terjemahannya, Semarang : PT. Tanjung Mas Inti, 1992.
Basri, Hasan, Horizon Al-Qur’an, dari judul asli Lea grands themes du Coran oleh Jasques Jomies Cet. I; Jakarta: Balai Kajian Tafsir Al-Qur’an Pase, 2002.
Husayn, Muhammad al-Khidr, Balaghat Al_Qur’an, Ali al-Ridha al-Tunisi, 1971.
Al-Qattan, Manna khalil, Mahabis fi Ulum al-Qur’an, Mansyurat al-Asr al-Haidis, 1973.
Hanafi, Segi-Segi Kesusesteraan pada Kisah-Kisah Al-Qur’an; Jakarta: Pustaka Al-Husna, 1984.
Baidan, Nashruddin, Wawasan Baru Ilmu Tafsir, Cet. I; Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2005.
Qutb, Sayyid, Seni Penggambaran dalam Al-Qur’an, terjemah Chadidjah Nasution; Yogyakarta: Nur Cahaya, 1981.
Chitjin, Muhammad, Al-Qur’an dan Ulumul Qur’an; Yogyakarta : Dana Bhakti Prima Yasa, 1998.






[1] Muhammad Ismail Ibrahim, Mu’jam al-Alfazh wa Alam al-Qur’anniya (t.tp.: Dar al-Fikr-al’Arabi,1969), h.140
[2] Departemen Agama RI., Al-Qur’an dan Terjemahannya, (Semarang : PT. Tanjung Mas Inti, 1992), h.545
[3] Hasan Basri, Horizon al Qur’an, dari judul asli Les Grens Themes Du Coran oleh Jacquis Joner ( Cet. I; Jakarta: Balai Kajian Tafsir al-Qur’an Pase, 2002), h. 80
[4] Muhammad al Khidir Husain, Balāgah al-Qur’ān, (t.tp. ; Ali al Rida al Tunisi, 1971), h. 104
[5] Manna Khalil al-Qattan, Manahis fi Ulum al-Qur’an, (Mansyurat al-Asr al-Haidis, 1973), h.306
[6] Hasan Basri, Horizon al Qur’an, dari judul asli Les Grens Themes Du Coran oleh Jacquis Joner ( Cet. I; Jakarta: Balai Kajian Tafsir al-Qur’an Pase, 2002), h. 82
[7] Hanafi, Segi-segi Kesusesteraan pada Kisah-kisah al Qur’an  (Jakarta: Pustaka al Husna, 1984), h. 1516
[8] Ibid, h.74
[9] Nasruddi Baidan, Wawasan Baru Ilmu Tafsir  (Cet. I; Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2005), h.230
[10]  Sayyid Qutb, Seni Penggambaran dalam al-Qur’an, Terjemah Khadijah Nasution (Yogyakarta: Nur Cahaya, 1981), h. 138
[11] Muhammad Chirjin, al Qur’an dan Ulumul Qur’an  (Yogyakarta: Dana Bakti Prima Yasa, 1989), h.120-121